MENJADI IMAMKU, SUATU HARI
aku tak bersedih karena kita belum dikat tali
perjodohan
jodoh melangkah dengan pelan
agar ia tak salah mengambil langkah
aku yakin
engkau pun tak ingin terpaksa menetapkan pilihan pada seseorang yang datang dalam
hidupmu
untuk mengisi ruang kosong
karena kelak ini bukan perjalanan
sehari,
sebulan, bahkan
setahun,
tapi selamanya karena cinta
jangan gundah karena lelah memendam
hasrat
jodoh memilih dengan bijak
agar ia tak menyisipkan penyesalan pada hati
anak manusia
aku yakin
aku tak ingin sekejap saja
mereguk manisnya cinta
bersama seseorang yang telah aku pilih
menjadi imamku
: engkau
jodohku
kelak menjadi imamku
di suatu hari mengajakku menyempurnakan
cinta
yang telah dititipkan oleh Sang Maha Cinta
: engkau
jodohku
suatu hari datang dengan segenap cinta dan
kasih
mengajariku akan makna berbagi
suka cita,
duka cita,
canda tawa,
bahkan isak tangis
yang belum pernah aku temui
di sepanjang perjalanan hidupku
aku tak bersedih kakanda
jodoh seharusnya menenangkan
bukan untuk meneteskan gelisah
jodoh akan memilihku
memilih menjadi imamku yang sejati
suatu hari.....
Minggu, 30 November 2014
30 November 2014....
In life, there are only 3 things u need :
One - things to enjoy
Two - things to fascinate you
Three - things to make u laugh
That's it!
dan kesemuanya itu terjadi lagi hari ini.
Bertemu dengan kronco2 yang bisa menghilangkan sedikit (bahkan banyak) rasa penat yang terakumulasi entah sejak kapan. Haha
Kebersamaan itu tak kan pernah tergantikan dengan apapun. Canda tawa, ria gembira itu semua tercipta walaupun mungkin ada seseorang yang dikorbankan (alias pembullyan) :-P
Aku menikmati itu semua. Aku rindu untuk melakukannya lagi. Bahkan lagi!
Terima kasih, Ya Rabb, atas caraMu dalam penghiburanku walaupun aku lebih rindu akan caraMu mendekatkan ku lewat surat cintaMu.
Rabu, 26 November 2014
~~~~~
Dalam gelapnya di malam hari ini, entah untuk ke berapa kalinya merenung dan menyalahkan kejadian yang telah dilakukan di mana hal tersebut sangat salah.
Bahkan, sebelum dilakukan pun sudah sangat sadar akan salah itu.
Nafsu mengalahkan semuanya.
Baik akal pikiran dan jiwa.
Setan menyebar ke seluruh urat nadi dengan begitu kuatnya dan membelenggu apa yang ada.
Tak ada sedikitpun niat untuk melepaskannya.
Selalu...selalu seperti ini.
Rasanya seperti terhimpit di antara tebing-tebing yang curam.
Dan terhampas kerasnya gelombang tsunami, sampai bernafas pun terasa seperti tak terasa.
Pikiran pun melayang, di dalam hati seraya berkata "Apakah aku masih ada di dunia ini?"
Untuk menghadap bahkan mengingat Dia pun merasa "Apakah diri ini pantas?"
Untuk menyebut Dia saja terasa kelu bibir ini.
Merasa yang akan keluar nanti hanyalah seonggok kotoran yang sangat menjijikkan.
karena diri ini tak lebihnya dari kotoran yang lebih hina dari semua kotoran yang ada di dunia ini.
Menjijikkan!!
Syukur?
Tak pernah sekalipun ada dalam hidup yang sudah diberikan olehNya.
Selalu sombong. Angkuh. Takabur. Merasa semua terjangkau dan akan selalu tersedia di tangan.
Ingkar?
Ya...setiap waktu. Merasa umur yang diberikan masih sangat panjang. Selalu berpikir "Nanti" dan "Nanti"
Tapi...Apakah akan ada "nanti" itu?
Tuhan? Apakah Kau membenciku?
Membenci diri ku ini sehingga Kau lepaskan pelukanMu dari ku?
Atau sebenarnya....apakah aku sendiri yang melepaskan diri dari pelukanMu?
Jika ku tanpaMu, akankah masih ku bernafas?
Jika ku tanpaMu, akankah masih ku bertahan?
Tuhan...Aku tersesat dalam jalan ku.
Aku seperti kehilangan hati dan jiwa ku.
Tuhan...
Jangan membenciku saat tak ada satu pun yang berada di sisi ku.
Bahkan, sebelum dilakukan pun sudah sangat sadar akan salah itu.
Nafsu mengalahkan semuanya.
Baik akal pikiran dan jiwa.
Setan menyebar ke seluruh urat nadi dengan begitu kuatnya dan membelenggu apa yang ada.
Tak ada sedikitpun niat untuk melepaskannya.
Selalu...selalu seperti ini.
Rasanya seperti terhimpit di antara tebing-tebing yang curam.
Dan terhampas kerasnya gelombang tsunami, sampai bernafas pun terasa seperti tak terasa.
Pikiran pun melayang, di dalam hati seraya berkata "Apakah aku masih ada di dunia ini?"
Untuk menghadap bahkan mengingat Dia pun merasa "Apakah diri ini pantas?"
Untuk menyebut Dia saja terasa kelu bibir ini.
Merasa yang akan keluar nanti hanyalah seonggok kotoran yang sangat menjijikkan.
karena diri ini tak lebihnya dari kotoran yang lebih hina dari semua kotoran yang ada di dunia ini.
Menjijikkan!!
Syukur?
Tak pernah sekalipun ada dalam hidup yang sudah diberikan olehNya.
Selalu sombong. Angkuh. Takabur. Merasa semua terjangkau dan akan selalu tersedia di tangan.
Ingkar?
Ya...setiap waktu. Merasa umur yang diberikan masih sangat panjang. Selalu berpikir "Nanti" dan "Nanti"
Tapi...Apakah akan ada "nanti" itu?
Tuhan? Apakah Kau membenciku?
Membenci diri ku ini sehingga Kau lepaskan pelukanMu dari ku?
Atau sebenarnya....apakah aku sendiri yang melepaskan diri dari pelukanMu?
Jika ku tanpaMu, akankah masih ku bernafas?
Jika ku tanpaMu, akankah masih ku bertahan?
Tuhan...Aku tersesat dalam jalan ku.
Aku seperti kehilangan hati dan jiwa ku.
Tuhan...
Jangan membenciku saat tak ada satu pun yang berada di sisi ku.
Senin, 24 November 2014
Anon
----
Seorang munafik itu seperti punuk merindukan rembulan
di mana hal yang ia dambakan hanyalah impian kosong.
Tak pernah terpikirkan olehnya untuk memantaskan diri
dan dengan beraninya berpikir untuk mendamba pangeran berkuda putih.
Apa yang ia miliki sehingga berani-beraninya bermimpi?
Ia lebih hina dari segala makhluk hina di muka bumi ini.
Bahkan untuk memantaskan diri kepada Sang Pencipta nya pun tidak ia lakukan.
Seorang munafik itu seperti punuk merindukan rembulan
di mana hal yang ia dambakan hanyalah impian kosong.
Tak pernah terpikirkan olehnya untuk memantaskan diri
dan dengan beraninya berpikir untuk mendamba pangeran berkuda putih.
Apa yang ia miliki sehingga berani-beraninya bermimpi?
Ia lebih hina dari segala makhluk hina di muka bumi ini.
Bahkan untuk memantaskan diri kepada Sang Pencipta nya pun tidak ia lakukan.
Langganan:
Komentar (Atom)