Hari ke-9 tak terdengar kabar beritanya.
Tak ada lagi keisengannya yang selalu membuatku jengah.
Sedikit rindu...tapi apa mau dikata, dia menyerah akan kekerasan diriku.
Baginya usaha yang selama ini dia lakukan sudah maksimal.
Namun, saat progress dari hasil usahanya terlihat bagus dia sudah berlalu pergi.
Apakah aku yang terlalu ketat untuk mengujinya?
Apakah aku benar-benar kejam?
Dan sekarang, aku sendiri yangmerasakan kesedihan ini.
Kesepian tanpa keisengannya.
Tak ada lagi senda gerau darinya.
Tak ada lagi alarm darinya untuk mengingatkan sholat.
Apakah aku menyiakan kesempatan?
Apakah aku tak mensyukuri apa yang datang padaku?
Dan sekarang hanya tinggal kesedihan yang aku rasakan