Jumat, 18 Maret 2016

18 Maret 2016

hai kamu...iya kamu. kamu yang selalu bisa memporak porandakan hati dan pikiran ini.
kamu yang selalu seperti tertawa mendapatkan kemenangan saat bisa menyudutkan kembali diriku ke dalam gelapnya ruang rindu.
ya, rindu. rindu kamu!
dan kembali aku bertepuk tangan atas kemenanganmu kembali.
entah permainan Tuhan apalagi. aku benar-benar tak habis pikir.
dengan tiba-tiba kamu muncul di hadapanku. walaupun hanya sebatas potretmu dalam lembaran digital.
kamu tahu? hanya dengan beberapa potretmu itu berhasil menenggelamkanku kembali.
aku selalu benci. benci dengan sisi diriku yang satu ini.
sisi yang selalu luluh lantah jika berkaitan dengan segala hal tentangmu.
benci dengan kebodohanku yang ternyata (mungkin) masih mengharapmu kembali.
benci dengan tak keberdayaanku untuk melupakanmu.
aku sadar, kamu tak bermaksud menyakitiku.
kamu tak ingin membuatku lemah.
karena semua itu diriku yang membangunnya.
membangun anganku tentangmu.
membangun harapku akan dirimu.
membangun rasa di hatiku ini untukmu.
ya, aku yang bodoh.
aku yang buta.
aku yang hanya hidup dalam imajinasi.
aku yang membangun mimpi ini.
mimpi yang tak akan bisa menjadi seutuhnya.

Rabu, 09 September 2015

Hari ke-9 tak terdengar kabar beritanya.
Tak ada lagi keisengannya yang selalu membuatku jengah.
Sedikit rindu...tapi apa mau dikata, dia menyerah akan kekerasan diriku.
Baginya usaha yang selama ini dia lakukan sudah maksimal.
Namun, saat progress dari hasil usahanya terlihat bagus dia sudah berlalu pergi.
Apakah aku yang terlalu ketat untuk mengujinya?
Apakah aku benar-benar kejam?
Dan sekarang, aku sendiri yangmerasakan kesedihan ini.
Kesepian tanpa keisengannya.
Tak ada lagi senda gerau darinya.
Tak ada lagi alarm darinya untuk mengingatkan sholat.
Apakah aku menyiakan kesempatan?
Apakah aku tak mensyukuri apa yang datang padaku?
Dan sekarang hanya tinggal kesedihan yang aku rasakan

Kamis, 13 Agustus 2015

Stalker or ... ?

No missed day since 7 days ago.
Selalu dengan pertanyaan singkat yang biasanya dikirim oleh seorang pasangan.
Bahkan, kadang sesekali mengulang pertanyaan yang sama.
Entah maksud dan tujuannya apa.
Terkadang pikiran berkata bahwa mungkin saja ada orang iseng yang mengenal dan mencoba mengerjai.
Tapi, ada saat-saat percakapan tertentu dia benar-benar tidak mengenali.
Pesan singkat di pagi hari, sekedar bertanya sudah bangun atau belum.
Ditambah dengan mengingatkan untuk mengerjakan sholat Subuh.
Berlanjut bertanya kerjakah hari ini.
Berangkat naik apa.
Berapa lama perjalanan.
Mengapa tidak membawa motor sendiri.
Siang harinya, mengingatkan makan.
Sudah sholat Dzuhur kah.
Lalu, di sore harinya bertanya sudah pulang atau belum.
Dan mengulang pertanyaan di pagi hari.
Pulang naik apa.
Sudah sampai mana.
Sudah sampai rumah belum.
Bahkan, saat sudah sampai rumah pun masih bertanya layaknya pasangan.
Sudah makan belum.
Tidur.
Jangan tidur malam-malam.
Mengapa bisa insomnia.
Dan begitu terus berulang-ulang setiap harinya.
Stalker kah?
Atau hanya mengerjaikah?

Sabtu, 25 April 2015

"cinta tak harus memiliki,
cinta tanpa dikatakan pun tetap cinta namanya,
tak berkurang se-senti pun"

atau bahkan

"asal melihat mu bahagia, 
aku turut bahagia,
walaupun bukan diriku yang berada di sisi mu
merasakan bahagia itu"

aah terlalu puitis bukan?
agak konyol, dan...
menggelikan

namun, bagi ku...semua itu benar
tak ada yang salah

bagi ku arti mencintai seperti itu
tak perlu banyak bicara atau bertingkah
karena cinta memang seperti itu



Senin, 09 Maret 2015

lost

Awalnya selalu ada, sampai aku merasa seperti orang yang terus diawasi. Gerak gerikku diamati. Bukannya tak senang, aku malah senang. Tapi kini sudah tak demikian lagi.

Ya, mungkin hanya imajinasiku saja. Angan-angan dalam mimpi.

Namun, hari ini aku melihat sesuatu yang membuatku terhimpit di antara dua perasaan. Senang atau sedih kah?

Aku tahu. Itu bukan ditujukan untukku. Mungkin teman kecilnya. Mungkin teman kuliahnya. Atao mungkin kenalan dari temannya.

Aku harus bebas dari perasaan ini, menjalani hidupku.

Tanpa orang lain.

Sendiri seperti sedia kala.

Sampai takdir Tuhan berbicara lain padaku.

Sabtu, 28 Februari 2015

KECIL



Saya ini kecil..
Keberadaan saya di bumi ini mungkin cuma satu bagian dari partikel debu yang dibagi satu milyar.
Bisa bayangkan seperti apa kecilnya?
Iya, tiada harga.

Saya ini kecil..
Tiada milik dan upaya.
Jika bukan karena Allah yang mengkaruniakan hidup, entahlah saya ini jadi apa.
Mungkin cuma jiwa tak tentu arah yang mencari mangsa untuk dijerumuskan ke dalam dosa.

Saya ini kecil..
Belumlah sesolehah mereka yang telah sempurna imannya kepada Allah.
Saya ini masih dzalim.
Masih betah jadi ahli maksiat.
Masih bergelimangan cinta kepada dunia.

Saya ini kecil..
Miskin pula.
Tak miliki apa-apa.
Semua yang ada pada saya, semua milik Allah.
Bahkan raga ini.
Jiwa ini.
Semua saya pinjam.
Suatu saat akan diambil oleh pemilikNya.

Saya ini kecil..
Cuma hamba tak tahu diri.
Tenggelam dalam gemerlap dunia seolah akan tinggal di sini selamanya.
Padahal jika Allah berkehendak, detik ini pun saya bisa menghadapNya.

Saya ini kecil..
Lalu untuk apa menyombongkan diri?
Menganggap orang lain lebih hina?
Seolah saya paling sempurna, paling bagus agamanya?

Saya ini kecil..
Di luar diri saya ada kekuatan super besar tak kasat mata.
Dialah yang terbesar di antara semua.
Dia menciptakan jagat raya, surge, neraka dan segala isinya.
Dialah Rabb saya.

Saya ini kecil..
Jadi jangan pernah sekalipun merasa besar.

(copas from IG : tausiyahku)

Kamis, 05 Februari 2015

Tak mudah bagiku,
sungguh tak mudah untuk menghapus 
akan bayangan masa lalu itu
Lalu ia hadir,
secara tiba-tiba
secara kebetulan
dan tanpa ku sadari
ia selalu berada dalam pikiranku
dalam anganku
Tapi aku takut,
sungguh takut akan rasa yang kurasakan ini
takut ia akan pergi dari ku
seperti masa lalu ku
Tuhan, kuatkan aku
kuatkan hatiku
supaya aku bisa merelakan ia pergi
jika itu memang takdirku